Cermin masa lalu…

Di masa kecil, saat pertama menyentuh benda bernama sepeda, kaki ini gemetar. Gemuruh di dada tak tertahankan sementara kedua tangan mencengkeram erat stang sepeda, padahal belum juga terkayuh pedal di kaki. Kedua mata menatap tajam menunggu lengang sepanjang jalan tertatap di depan, sebelum kayuhan pertama diayunkan. Satu kayuhan pun terayun, dan… lutut memar, lengan berdarah, ditambah kening sedikit benjol beradu kuat dengan aspal.

Menyerah? tentu tidak. Meski harus kembali terluka, menambah benjolan di sisi lain kening, atau menutup luka kemarin dengan luka yang baru, semangat tak pernah luntur demi bisa berdiri di atas sepeda roda dua. Esok hari, tambah lagi luka baru, atau luka yang sama bertambah parah, tetap saja terus berusaha mengayuh sepeda. Tiga kayuhan pertama, jatuh. Esok mendapat tujuh kayuhan, kemudian jatuh. Sebelas kayuhan, jatuh lagi dan seterusnya entah sudah keberapa ratus kali aspal jalan depan rumah itu bersahabat dengan lutut, lengan, kening ini. Hingga akhirnya jalan lurus, jalan terjal, mendaki dan turunan, hingga berlubang pun mampu dilewati dengan lincah, cepat dan yang penting, tidak lagi jatuh.

Menanjak remaja, sepeda motor pun dijajal. Tak peduli meski orang tua belum sanggup membelikannya, yang penting bisa dulu. Kali pertama menunggang kuda besi itu, ladang orang pun menjadi tempat pendaratan terbaik. Luka lama kembali terbuka, namun itu tak menyurutkan semangat. Malu rasanya tak mampu mengendarai motor layaknya semua teman lelaki di kampung. Bermodal semangat dan kepercayaan diri, ditambah sedikit gengsi kelelakian, melajulah motor tanpa lagi tersuruk di kebun singkong, tak lagi terparkir di tempat yang salah.

Di masa lalu, jatuh bangun pernah dialami. Sakit, luka, menangis, berdarah-darah menjadi sahabat sehari-hari. Tapi sakit, luka, air mata dan darah yang pernah menetes itu menjadi saksi bahwa semangat diri tak pernah padam untuk meraih keberhasilan. Tak hanya semangat, cita-cita untuk sekadar bisa melenggang mulus di atas sepeda atau motor yang begitu kuat, membuat diri rela jatuh bangun dan terluka. Sebuah pengorbanan yang harus dibayar.

Di masa lalu, kegagalan demi kegagalan pernah sangat rekat dengan diri ini. Pernah juga beberapa kesuksesan menjadi bagian kehidupan, gerimis hati ini saat menjalaninya. Jutaan jalan berlubang pernah terlalui, beberapa kali terjerembab di dalamnya. Jalan gelap begitu sering harus ditapaki, tak jarang menemui jalan buntu. Tak terbilang peluh saat mendaki, sementara senang tak terkira ketika mendapati jalan menurun. Yang membuat diri tak percaya, sungguh semuanya pernah dilalui.

Di masa silam, ada banyak sahabat baru berdatangan dan mengiringi hari-hari penuh kehangatan. Tak berbeda masanya, beberapa sahabat pernah pula meninggalkan diri, menjauh dan tak lagi pernah tahu gerangan dirinya. Pilu ketika harus berpisah, haru saat berjumpa kembali. Begitu banyak cinta bersemi, meski di waktu yang sama ada pula yang menabur benci pada diri.

Ketika masih sama-sama di bangku pendidikan, bersama sahabat mengukir mimpi. Melukis masa depan, membayangkan akan menjadi apa diri ini kelak, usia berapa menikah, seperti apa pasangan hidup nanti, berapa banyak anak yang dihasilkan, apa jenis kendaraan yang diinginkan, rumah sebesar apa yang didambakan, berapa banyak yang diinginkan saat kali pertama gajian, dan apa yang ingin dibeli dengan gaji pertama itu.

Waktu berlalu, mimpi terlewati, ada yang terwujud, tak sedikit yang menguap bersama awan di langit. Lukisan masa depan semakin buram, tak lagi jernih seperti saat pertama ditorehkan di atas kanvas harapan. Ada yang menyesali langkah tak tepat yang pernah ditempuh, ada yang mensyukuri karena tak selamanya apa yang dianggap benar, benar pula menurut Sang Maha Berkehendak.

Kita memang tak pernah bisa tahu yang akan terjadi besok, tetapi kita pernah punya masa lalu yang telah banyak memberi pengajaran. Kita pernah jatuh, terpuruk, sedih, bahagia, manis, pahit, terbang, menangis, tertawa, sendiri, bersama, di masa lalu. Sedangkan masa depan, kita hanya bisa mengukirnya di dalam bingkai mimpi, hanya bisa mengira, merencana dan merekayasa. Justru karena itulah, kita mesti belajar dari masa lalu. Karena masa lalu telah pernah mengajarkan semuanya. Bercermin dari masa lalu, agar rencana dan rekayasa untuk mimpi masa datang lebih mendekati kenyataan.

Bayu Gawtama

Advertisements

Comments (1) »

DURI DALAM JIWA

Keterusterangan memang sesuatu yang kadang menyakitkan, apalagi itu adalah sebuah nilai kesucian. Namun, kesucian yang kini tertancap duri tajam akankah mampu menggoyahkan sendi-sendi kebahagian? Akankah seorang lelaki bersabar dan setia menghadapi kenyataan, bahwa sang kekasih telah tertoreh luka karena duri tajam? Sementara, sang wanita yang telah terluka dicekam ketakutan seolah malam persembahan kesucian adalah saat kiamat tiba.

Hidup dalam mimpi telah memperbesar khayalan, dan makhluk inilah yang menjadi teman hidup. Terbebas atau terpenjara oleh mimpi mungkin tidak penting, karena yang terpenting sang lelaki telah tahu apa makna duri yang tersembunyi di tengah jiwa. Duri yang ketika menancap dijiwa memang menyakitkan, tetapi seiring waktu merambat, kehadirannya justru membuat hidup menjadi berharga, setidaknya untuk direnungkan dan digali mutiara intan berlian kekayaan batinnya.

Kerinduan…selalu membuat kehagiaan. Kerinduan itu pulalah yang membuat sepasang kaki seolah berlomba, bergerak bagai mesin bergantian. Karenanya, jantung pun terus memompa rindu, harapan keluar masuk melalui jaringan darah, hingga sekujur tubuh menjadi hidup dan bersemangat. Impian juga menyelimuti hati dan raga, menggerakkan jasad untuk membangun sebuah rumah mungil yang selalu dirindukan, menjalani hari-hari dengan khayalan, dan hidup dalam mimpi-mimpi ini seperti hidup dalam kenyataan. Tapi khayalan pulalah yang membuat kita tenggelam, karena terkadang tidak bisa membedakan antara khayalan dan kenyataan. Lantas, apa bedanya khayalan dan kenyataan bila masing-masing ditanggapi dengan hati dan pikiran, serta meninggalkan bekas dalam jiwa dan kehidupan? Apa bedanya antara mimpi dan kenyataan, bila masing-masing merupakan khayalan yang lewat, yang memberikan bayangannya pada jiwa, lalu beberapa saat kemudian bersembunyi dari alam indera?

Kenyataan yang ada, sang kekasih telah tergores luka tajam. Ia tertusuk, sadar telah terbangun dan kehilangan mimpi bersama bidadari yang dituntun dengan kedua mata terpejam menuju tempat tinggal penuh keindahan. Seorang bidadari yang sejak perjumpaan pertama telah membuatnya terpesona dan mabuk kepayang. Karena sang bidadari itu pulalah ia mempersiapkan raga dan seluruh perasaan demi menyongsong hari yang dijanjikan, hidup bersamanya untuk mempersembahkan gairahnya dalam sebuah rumah tangga yang disahkan agama.

Ia membayangkan dirinya di saat-saat tidak lagi hidup di bumi dan hanya merasa bahwa kehidupan adalah semata-mata impian yang membahagiakan. Impian itu kadang berupa lagu merdu yang penuh rahasia, menggemuruhkan hati, menggerakkan pikiran, dan membangkitkan kemabukan, impian, kerinduan, dan keluluhan dalam perasaan. Ia telah mencintai gadis itu yang selalu menyanyi dengan tangan dan hati, dengan urat syaraf dan paras muka yang segar. Gadis itu adalah lagu itu sendiri dalam bentuk nyata sebelum akhirnya duri-duri pun muncul mengganggu. Lagu itu pelan-pelan merayap ke dalam dirinya dan dengan halus nada-nada lembut pun tumpah dalam syarafnya. Diri menjadi tenang dan syarafnya lega. Ia terlena, mabuk, lalu melayang-layang di angkasa rasa yang jernih.

Namun, kenyataan kadang terpisah dengan khayalan, tapi itu menjelma pada dalam diri bidadarinya. Ya! Ia adalah bidadari, sekaligus ibu, ibu yang kelak dari rahimnya terlahir si kecil dengan selimut kasih sayang. Sang bidadari kemudian membungkuk dengan penuh kasih lalu mengangkat si kecil ke dalam dekapannya dengan lembut, menepuk-nepuk punggungnya dan menuju ke ranjang dengan pelan. Kemudian terpampanglah pemandangan yang mempesona yang belum pernah terlihat selama hidupnya, kecantikan yang terpancar dalam wajah rupawan, pandangan penuh kasih dalam dua mata penuh pesona, gerakan lemah dalam anggota tubuh yang matang, dan ciuman panjang dari dua bibir yang menggoda. Ah…ia memang bidadari, karena hanya bidadarilah yang memiliki sifat-sifat keibuan yang sempurna.

Saat rembulan menyuguhkan hidangan malamnya, ia merasa ada semacam kesucian pada sang gadis. Namun, saat terlontar pikiran seperti itu, terkadang kedukaan yang begitu berat dan kebisuan menusuk-nusuk, menyedihkan. Ia lalu mematikan lampu, dan menuju tempat tidur sambil mencoba menahan air mata sebisa mungkin. Ketika berbaring, air mata itu bergerak, menerobos kelopak mata, menuju ke pipi, ke bantal dan membasahi sarung bantal dan kapuk di dalamnya. Sang lelaki tegar pun tertidur dengan tubuh lemah. Air mata menjadi bahasa sunyi dan wakil dari perasaan duka yang dihimpit oleh nasib.

Saat ia terbangun, ia mendapati dirinya berjiwa harum. Ia bangun dengan jiwa yang jernih, seperti kejernihan seorang sufi. Haruskah ia meninggalkan sang gadis yang telah bergulat dengan duri-duri, dan melawan masa lalu? Bahkan, setelah itu semua, sang gadis memberikan jiwa kepadanya, tanpa tirai atau selimut apa pun. Kerinduan itu menusuk kembali. Perasaannya menggelora hebat dan raganya bergetar karena cinta. Segala sesuatu yang ada pada sang gadis telah menjadi bagian dari kecintaan, disenangi jiwanya, dan mengalirkan cinta dalam tulang sumsumnya. Sesuatu itu diselimuti cahaya mempesona, yang memunculkan khayalan dan mimpi indah memabukkan, hingga ia larut dalam lautan kerinduan.

Akankah sang lelaki bebas atau terpenjara oleh mimpi? Baginya, semua itu tidak penting. Sebab ia telah tahu apa makna duri yang tersembunyi di tengah jiwa. Duri yang ketika menancap dijiwa memang menyakitkan, tetapi lama kelamaan kehadirannya justru membuat hidup menjadi berharga. Setidaknya untuk direnungkan dan digali mutiara intan berlian kekayaan batinnya, juga kekayaan cinta yang sangat sulit dirumuskan ketinggian nilainya. Ya…cinta memang telah membuat sang lelaki merasa kaya, dan ia merasa cukup mensyukuri hal ini selama hari-hari bergerak menuju ujung hidupnya.

IKATLAH ILMU DENGAN MENULISKANNYA
Al-Hubb Fillah wa Lillah

~ Abu Aufa ~

Leave a comment »

KEUTAMAAN HARI JUM’AT

Segala puji bagi Allah SWT Rab semesta alam, shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada Rasulullah SAW, beserta para keluarga, sahabat, dan orang-orang yang tetap istiqomah menegakkan risalah yang dibawanya hingga akhir zaman..

Wahai kaum muslimin ….Allah telah menganugerahkan bermacam-macam keistimewaan dan keutamaan kepada umat ini. Diantara keistimewaan itu adalah hari Jum’at, setelah kaum Yahudi dan Nasrani dipalingkan darinya.
Abu Hurairah meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda:

Allah telah memalingkan orang-orang sebelum kita untuk menjadikan hari Jum’at sebagai hari raya mereka, oleh karena itu hari raya orang Yahudi adalah hari Sabtu, dan hari raya orang Nasrani adalah hari Ahad, kemudian Allah memberikan bimbingan kepada kita untuk menjadikan hari Jum’at sebagai hari raya, sehingga Allah menjadikan hari raya secara berurutan, yaitu hari Jum’at, Sabtu dan Ahad. Dan di hari kiamat mereka pun akan mengikuti kita seperti urutan tersebut, walaupun di dunia kita adalah penghuni yang terakhir, namun di hari kiamat nanti kita adalah urutan terdepan yang akan diputuskan perkaranya sebelum seluruh makhluk”. (HR. Muslim)

Al-Hafidz Ibnu Katsir berkata:

“Hari ini dinamakan Jum’at, karena artinya merupakan turunan dari kata al-jam’u yang berarti perkumpulan, karena umat Islam berkumpul pada hari itu setiap pekan di balai-balai pertemuan yang luas. Allah SWT memerintahkan hamba-hamba-Nya yang mukmin berkumpul untuk melaksanakan ibadah kepada-Nya. Allah SWT telah berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (QS. 62:9)

Maksudnya, pergilah untuk melaksanakan shalat Jum’at dengan penuh ketenangan, konsentrasi dan sepenuh hasrat, bukan berjalan dengan cepat-cepat, karena berjalan dengan cepat untuk shalat itu dilarang.

Al-Hasan Al-Bashri berkata:

“Demi Allah, sungguh maksudnya bukanlah berjalan kaki dengan cepat, karena hal itu jelas terlarang. Tapi yang diperintahkan adalah berjalan dengan penuh kekhusyukan dan sepenuh hasrat dalam hati”. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir : 4/385-386).

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata:

“Hari Jum’at adalah hari ibadah. Hari ini dibandingkan dengan hari-hari lainnya dalam sepekan, laksana bulan Ramadhan dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Waktu mustajab pada hari Jum’at seperti waktu mustajab pada malam lailatul qodar di bulan Ramadhan”. (Zadul Ma’ad: 1/398).

KEUTAMAAN HARI JUM’AT

1. Hari Terbaik

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Hari terbaik dimana pada hari itu matahari terbit adalah hari Jum’at. Pada hari itu Adam diciptakan, dimasukkan ke surga serta dikeluarkan darinya. Dan kiamat tidak akan terjadi kecuali pada hari Jum’at.

2. Terdapat Waktu Mustajab untuk Berdo’a.

Abu Hurairah berkata Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya pada hari Jum’at terdapat waktu mustajab bila seorang hamba muslim melaksanakan shalat dan memohon sesuatu kepada Allah pada waktu itu, niscaya Allah akan mengabulkannya. Rasululllah SAW mengisyaratkan dengan tangannya menggambarkan sedikitnya waktu itu (H. Muttafaqun Alaih)

Ibnu Qayyim Al Jauziah – setelah menjabarkan perbedaan pendapat tentang kapan waktu itu – mengatakan:

“Diantara sekian banyak pendapat ada dua yang paling kuat, sebagaimana ditunjukkan dalam banyak hadits yang sahih, pertama saat duduknya khatib sampai selesainya shalat. Kedua, sesudah Ashar, dan ini adalah pendapat yang terkuat dari dua pendapat tadi (Zadul Ma’ad Jilid I/389-390).

3. Sedekah pada hari itu lebih utama dibanding sedekah pada hari-hari lainnya.

Ibnu Qayyim berkata:

“Sedekah pada hari itu dibandingkan dengan sedekah pada enam hari lainnya laksana sedekah pada bulan Ramadhan dibanding bulan-bulan lainnya”. Hadits dari Ka’ab z menjelaskan: “Dan sedekah pada hari itu lebih mulia dibanding hari-hari selainnya”.(Mauquf Shahih)

4. Hari tatkala Allah SWT menampakkan diri kepada hamba-Nya yang beriman di Syurga.

Sahabat Anas bin Malik dalam mengomentari ayat:

“Dan Kami memiliki pertambahannya” (QS.50:35) mengatakan: “Allah menampakkan diri kepada mereka setiap hari Jum’at”.

5. Hari besar yang berulang setiap pekan.

Ibnu Abbas berkata :

Rasulullah SAW bersabda:
”Hari ini adalah hari besar yang Allah SWT tetapkan bagi ummat Islam, maka siapa yang hendak menghadiri shalat Jum’at hendaklah mandi terlebih dahulu ……”. (HR. Ibnu Majah)

6. Hari dihapuskannya dosa-dosa

Salman Al Farisi berkata : Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang mandi pada hari Jum’at, bersuci sesuai kemampuan, merapikan rambutnya, mengoleskan parfum, lalu berangkat ke masjid, dan masuk masjid tanpa melangkahi diantara dua orang untuk dilewatinya, kemudian shalat sesuai tuntunan dan diam tatkala imam berkhutbah, niscaya diampuni dosa-dosanya di antara dua Jum’at”. (HR. Bukhari).

7. Orang yang berjalan untuk shalat Jum’at akan mendapat pahala untuk tiap langkahnya, setara dengan pahala ibadah satu tahun shalat dan puasa.

Aus bin Aus berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang mandi pada hari Jum’at, kemudian bersegera berangkat menuju masjid, dan menempati shaf terdepan kemudian dia diam, maka setiap langkah yang dia ayunkan mendapat pahala puasa dan shalat selama satu tahun, dan itu adalah hal yang mudah bagi Allah”. (HR. Ahmad dan Ashabus Sunan, dinyatakan shahih oleh Ibnu Huzaimah).

8. Wafat pada malam hari Jum’at atau siangnya adalah tanda husnul khatimah, yaitu dibebaskan dari fitnah (azab) kubur.

Diriwayatkan oleh Ibnu Amru , bahwa Rasulullah SAW bersabda:

Setiap muslim yang mati pada siang hari Jum’at atau malamnya, niscaya Allah akan menyelamatkannya dari fitnah kubur”. (HR. Ahmad dan Tirmizi, dinilai shahih oleh Al-Bani).

Comments (3) »

Akhirnya Datang Juga

Walaupun tidak setiap hari memantengi diri di depan televisi, tapi saya yakin di antara kita pasti tahu sebuah acara variety show yang berjudul “Akhirnya Datang Juga” yang ditayangkan di sebuah stasiun televisi swasta. Dalam acara itu, sang bintang tamu (baca: artis) dituntut untuk memainkan sebuah peran yang tidak dia ketahui sebelumnya alur maupun skenarionya. Bahkan dengan dandanan yang sudah dia dapat, belum tentu match dengan apa yang dia pikirkan. Di situlah uniknya acara tersebut sehingga memancing penonton untuk tertawa lepas saat menyaksikannya.

Tapi, pada kesempatan ini saya bukan ingin mempromosikan acara tersebut. Saya mendapatkan ide menulis ini hanya dari judul di atas. Akhirnya Datang Juga.

Ya, akhirnya datang juga…
Sesuatu yang tidak kita kira sebelumnya, pada suatu saat akan datang juga dan tidak dapat kita pungkiri. Oleh karena yang punya skenario hanya Allah, kita tidak pernah tahu “peran” apa yang akan kita mainkan dalam sebuah sandiwara di dunia ini, apa yang harus kita lakukan, “pakaian” apa yang akan kita kenakan untuk memerankan sebuah “tokoh”, kita semua tidak akan pernah tahu, hanya Dia.

Seperti pengaruh dari acara tersebut, penonton akan tertawa lepas menyaksikan tingkah polah para bintang tamu yang ter-“surprise”-kan dengan adegan yang mereka hadapi. Bisa jadi, di dalam sandiwara dunia ini pun, ada orang-orang yang merespon lantaran menyaksikan tingkah polah kita menjalani kehidupan dunia. Tingkah polah kita yang spontan terkadang juga tanpa pikir panjang akan memancing orang-orang di sekitar kita terpengaruh bahkan memancing reaksi yang (mungkin) tidak kita duga. Ada yang tertawa, ada yang sedih, ada yang marah, bertanya-tanya, dan lain-lain.

Akhirnya datang juga…
Takdir Allah, dipungkiri atau tidak, suatu saat akan datang juga. Kita inginkan atau tidak, semua akan terjadi dan tidak ada yang dapat mencegah atau bahkan menangguhkannya. Tapi, ada satu hal yang dapat kita lakukan yakni berdo’a karena do’a yang dilakukan dengan sungguh-sungguh insya Allah dapat menangkal takdir-Nya. Usaha kita yang keras pun terkadang tidak dapat kita harapkan penuh hasilnya, tapi dengan dibarengi do’a yang sungguh-sungguh pula, (mungkin) Allah akan merubah “skenario” (baca: takdir) yang sudah Dia tetapkan. Sekali lagi, semua itu hanya hak prerogatif-Nya Allah, hak istimewa untuk membuat semua aturan di dunia ini hanya Dia yang berhak.

Akhirnya datang juga…
Terakhir, jangan pernah kita mendahului-Nya dalam mewujudkan sesuatu, yakin bahwa diri kita sendiri mampu, padahal itu semua tidak akan pernah terwujud tanpa campur tangan-Nya. Kita pun jangan pernah memaksakan sesuatu kepada Allah karena itu semua sudah diatur dengan sangat rapi oleh-Nya, sudah ada waktu-waktu yang tepat, dan kita tidak pernah tahu apa yang terbaik selain Dia. Walaupun kita menginginkan sesuatu di saat ini, tapi bisa saja saat ini bukan waktu yang baik. Waktu yang baik menurut Allah bisa saja esok hari, minggu depan, bulan depan, tahun depan, atau mungkin tidak akan pernah Allah berikan karena memang hal itu bukan yang terbaik untuk kita.

Wallahu’alam bishowab.

Oleh : Azkia_Salsabila

Leave a comment »

Mari Kita Memaksa Diri Untuk Ingat Mati…!!!!!

Maaf…baru terfikir untuk menceritakan cerita ini pada rakan rakan, mungkin ceritanya sudah basi, tapi insya Allah menarik, ada sisi baik di balik dari cerita ini untuk kita renungkan, berikut ini ceritanya.

Sama seperti pada minggu-minggu sebelumnya, walau tidak rutin tapi sering…Pagi-pagi sekali kami bertiga, aku, istri dan anak dalam satu sepeda motor berangkat menuju pengobatan alternatif untuk terapi kesehatan. Ketika itu istiku sedang hamil 8 bulan, agar ia dan janin yang dikandungnya sehat, untuk itu kami berinisiatif rutin terapi. Di samping biayanya sangat terjangkau, sekalian aku dan anak pertamaku juga diterapi disana, sekedar untuk menjaga kesehatan.

Berhubung pengobatan alternatif buka praktek jam ½ 6 pagi, jadi jam 4 pagi kami harus sudah siap-siap berangkat, sholat subuhnya berjamaah di masjid yang berada tidak jauh dari tempat praktek itu. Pagi itu, sekian menit lagi akan sampai ke mesjid, aku dikejutkan dengan melintasnya Bajaj di perempatan lampu merah di kawasan Tebet Dalam ! biasalah perempatan lampu merah yang letaknya agak jauh ke dalam dari jalan besar, orang suka main nyelonong aja. Apalagi di pagi hari, selain sepi…pada perempatan seperti itu jarang ada polisi yang bertugas disana.

Detail kejadiannya begini. Ketika berada di perempatan lampu merah, saat itu jatahku untuk jalan dan dari jauh juga aku lihat lampu memang sudah hijau. Pada waktu aku akan tancap gas untuk belok kanan, selang sekian detik…dari arah berlawan ada Bajaj melaju kencang menerabas lampu merah. Masya Allah, Asli…aku kaget sekali, puji syukur Alhamdulillah terucap di hati dan dalam sholat aku sujud syukur, Allah masih memberi kesempatan pada kami bertiga untuk hidup, ups…bukan bertiga…tapi berempat ! ada satu lagi, yaitu janin yang sudah berumur 8 bulan di dalam rahim istriku.

Lalu sesampai di tempat tujuan dan dalam situasi antri, ada salah seorang Bapak-bapak disana menginformasikan bahwa Taufik Savalas meninggal dunia. “Innalillahi wainna ilahi rojiun” ucapku spontan saat itu. Lalu penasaran juga aku pingin tau jelas gimana kejadian wafatnya pelawak kondang itu ?! Langsung saja aku bertanya “meninggalnya kenapa Pak ?” Bapak itu bilang “tabrakan” ! Wah kaget juga aku…karena baruuu saja aku sekeluarga hampir kena musibah yang sama. Dalam beberapa jam ke depan terlintas terus di pikiranku mengenai kejadian di perempatan itu tadi. Tapi aku tidak sanggup untuk terus membayangkannya bila saat itu sampai terjadi tabrakan beneran ! apalagi saat itu istriku dalam keadaan hamil tua.

Seiring dengan meninggalnya Taufik Savalas, di penjuru negeri dan belahan negara sana, banyak juga manusia yang menjumpai ajalnya dan begitu seterusnya sampai hari akhir nanti. Dalam surah Ali-Imran ayat 185, Allah berfirman “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati”. Begitulah ketentuan yang berlaku tertulis di dalam Al-qur’an.

Bila ajal sudah tiba ! berarti jatah waktu kita hidup di dunia sudah habis. Tidak ada satu mahluk pun yang bisa menghindar lari dari jemputan malaikat Izroil yang memang secara khusus sudah diperintahkan oleh Allah. Allah berfirman dalam QS.Al-Munaafiqun Ayat 11 “Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.”

Dalam ayat lain Allah berfirman “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS.Al-Jumu’ah : 8).

Mendengar kabar orang meninggal dunia, sungguh itu sebuah kabar yang tidak mengenakan untuk di dengar, apalagi yang meninggal dunia itu sodara dekat atau kawan dekat. Seperti Taufik Savalas itu, aku lihat berita di layar kaca, beberapa kawannya sampai ada yang meneteskan air mata. Masyarakat pun ada yang merasa kehilangan sosok pelawak yang sangat lucu itu. Saat mengenangnya mereka berkomentar “dia orangnya ramah lho dan baik, dermawan juga suka bagi-bagi duit pada orang miskin, dan suka berdakwah juga”.

Saat kita melihat atau mendengar ada orang meninggal dunia, jangan hanya berexpresi sedih dan berkomentar seperti tadi di atas. Karena buat apa hanya berexpresi sedih, tapi jauh dari ingat mati ! harusnya berbarengan dengan expresi itu, kita paksakan diri untuk ingat mati, bahwasanya kita juga akan mengalami hal yang serupa, yaitu mati ! Jadi merenunglah sejenak, sudah sampai mana kwalitas ibadah kita hingga saat ini dan sudah sejauh mana kita mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian ?! menurut hematku, begitu lah seharusnya sikap diri ketika melihat atau mendengar ada orang yang sudah lebih dulu menghadap keharibaan-Nya.

Baginda Nabi Muhammad S A W bersabda “Orang yang cerdas adalah orang yang pandai menghisab dirinya di dunia dan beramal untuk kehidupan setelah mati. Sedangkan orang yang bodoh adalah orang yang dirinya selalu mengikuti hawa nafsunya dan hanya suka berharap kepada Allah tanpa melakukan apa-apa.” (HR Tirmidzi).

Mari kita memaksa diri untuk ingat mati, karena kapan saja dan dimana saja maut bisa datang ! Mati tidak selalu berawal dengan timbulnya penyakit, tapi bisa datang dengan tiba-tiba tanpa diduga. Itu semata-mata karena memang jatah waktu hidup sudah habis, jadi saat itu Allah memerintahkan malaikat Izroil untuk mencabut jawa seseorang dalam keadaan apapun.

Wallahu ‘alam bish showab.

Oleh: Wibowo

Leave a comment »

Sungguh Cepat Engkau Menjawabnya

Hpku tiba-tiba berdering, menandakan ada SMS yang masuk. Setelah kulihat nama pengirimnya, tertulis nama Dina. Ku lanjutkan membaca pesannya “Mbak, apa kabar?oya, aku mau ngomong sesuatu tapi aku malu mbak…”katanya. “ Nggak usah malu dek, ngomong ja.meski baru kenal, adik sudah ku anggap saudara sendiri…”balasku. Dia membalasnya” Ayahku pergi ke Jakarta, bisa nggak kalau mbak ngirimi aku pulsa. nanti saya ganti setelah ayah balik dari Jakarta”. Entah kenapa seketika itu juga hatiku bertanya-tanya dan merasa aneh,kok bisa-bisanya dia minta kiriman pulsa padahal kita baru beberapa hari kenal dan itupun dikenalin seorang teman lewat SMS. Lama sekali SMS itu tidak ku balas meskipun HP masih berada di genggaman. Hatiku masih bertanya-tanya dan berusaha membuatnya berpikiran positif. Dalam kondisi masih bingung, dia membalasnya” Kalau mbak tidak bisa, tidak apa-apa.maaf ganggu…” katanya. Dan seketika itu juga ku balas “ Ya sudah nanti saya kirimi”. Meskipun sudah memberi jawaban seperti itu, hatiku masih ragu dan terus berpikir, kenapa dia seperti itu padahal baru kenal.

Dan dalam proses berpikir tersebut, tiba-tiba ku tersentak dengan mengingat satu ayat dalam Al-Qur’an

“Apakah kau mengira bahwa kau telah dikatakan beriman, sebelum Allah menurunkan ujian-ujian padamu” dan sebuah kata bijak “Rejeki itu milik Allah, bukan milikmu. Jika kau meringankan beban orang lain tanpa ragu dan tunda-tunda maka Allah akan meringankan bebanmu tanpa kau duga-duga”.

Setelah itu, hatiku tiba-tiba sadar dan yakin bahwa Allah pasti berada di balik semua ini dan ingin menguji atas rejeki yang ku miliki. Dan hatiku tiba-tiba lega.

Beberapa saat kemudian, hpku berdering lagi. bukan SMS dari seseorang yang masuk melainkan ada laporan bahwa ada transferan pulsa ke hpku. Ku bingung karena yang ngirim itu bukan nomor yang ku kenal. Untuk konfirmasi, akhirnya ku kirim SMS pada nomor yang mentransfer itu. Dan spontan dibalas “Maaf, tadi saya salah kirim. Tapi tidak apa-apa, itu buat Anda saja”. Setelah mendapat jawaban SMS itu, tak terasa air mengalir hangat dipipiku. Ku terharu sekaligus tak percaya atas semua yang terjadi. Dengan spontan pula, mulutku berucap “Allahu Akbar…allahuakbar…allahuakbar…” sekaligus beristighfar karena beberapa saat yang lalu ku meragukan sesuatu kehendak Allah.

Sungguh, ketika hatiku bimbang dan ragu, Allah menjawabnya dengan cepat. Dia menunjukkan bahwa segala sesuatu yang terjadi pada manusia adalah KehendakNya. Rejeki adalah milikNya sehingga kita tidak boleh ragu untuk meringankan beban orang lain meskipun orang itu baru kita kenal dan tak kenal sekalipun karena Dialah yang akan menjaga diri dan harta kita. Allahuakbar…

Oleh: Riyanti.

Leave a comment »

HAKIKAT YANG HILANG…..

“ Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hag) selain aku maka sembahlah aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku” (thaha:14)

Berdasarkan ayat tersebut maka dapat di ketahui bahwa tujuan dari ibadah shalat adalah untuk meingat Allah Swt. Selain itu, Allah juga telah menjadikan zikir sebagai penutup semua jenis ibadah, dimana jika kita telah selesai mengerjakan suatu ibadah maka tutuplah ibadah tersebut dengan berzikir kepada Allah Swt.

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalatmu ingatlah Allah di waktu berdiri, diwaktu duduk, dan di waktu berbaring, kemudian apabila kamu telah merasa aman maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang di tentukan waktunya atas orang-orang yang beriman” (An-Nisa:103).

Kita sering mendengar dan membaca ayat-ayat tersebut dan kita mengetahui sebuah hakekat yang menyatakan bahwa tujuan dari berbagai macam ibadah adalah untuk mengingat Allah Swt. Akan tetapi, hakekat tersebut merupakan sebuah hakekat yang telah hilang dari hadapan kita, dimana setan selalu berusaha keras agar hakekat tersebut akan tetap hilang dari hadapan kita, sehingga kita akan selalu berada dalam kelaleian dan permainan dunia. Tetapi berkat karunia Allah, dan segala puji hanya milik-Nya, hakekat itu telah ditampakkan kepada kita maka mengapa kita tidak mau berzikir ?

“ Perumpamaan seorang yang mengingat Allahnya dengan orang yang tidak mengingat Allahnya adalah seperti orang yang hidup dengan orang yang mati” (H.R Bukhari).

Benar, berzikir kepada Allah Swt menunjukan hidup atau tidaknya hati seseorang. Oleh karena itu barang siapa yang tidak berzikir kepada Allah maka hatinya telah mati. Jika kita diberi pilihan untuk memilih pasti kita akan memilih hati yang hidup dan bahagia, tetapi ada beberapa rahasia yang perlu kita ketahui, apakah kita saat ini telah berzikir kepada Allah ?

Dengan berpegang teguh pada jawaban tersebut, kita akan menjadi teratur. Jadikanlah zikir sebagai nasehat yang diletakakan didepan mata kita. Berzikir kita kepada Allah Swt niscaya akhlak kita akan teratur. Berzikirlah kita kepada Allah Swt niscaya ibadah kita akan menjadi teratur.

Akhirnya, marilah kita mengelilingi taman zikir, menghirup udara segar didalamnya dan menikmati bunga-bunga yang ada didalamnya. Saya memohon kepada Allah agar Dia menjadikan kita sebagai salah seorang yang ketika mendengarkan perkataan, kita akan mengikuti perkataan yang terbaik.

Oleh : Amr Khalid/Intermedia

Leave a comment »