APA ITU CINTA ….?

(Mengenal Cinta menurut padangan Ibnu Qayyim Al Jauziyyah)

Tanda-tanda cinta yang menjadi pedukung rasa cinta ( mensyarah pada cinta ALLAH ) itu padanya 19 perkara yang perlu kita hayati. Bawalah sifat –sifat ini kepada masyarakat untuk meraih cinta ALLAh dan Rasul.

1. Memanahkan dan menghalakan padangan mata (mata hati) pada yang dicinta.

2. Malu-malu jika orang yang dicintai memandangnya. Contohnya : menundukkan padangan dalam solat, beradab depan ALLAH swt.

3. Sentiasa mengingati orang yang dicintai dan menyebut-nyebutnya : “Sessungguhnya hamba Ku (yang sebenar) adalah setiap hambaKu yang menyebutKU. Tanda cinta sejati adalah menyebut orang yang dicintai tatlkala senag dan susah”.

4. Tunduk kepada perintah orang yang dicintai : Zuhud paling tinggi adalah menghindari setiap kehendak yang bertentangan dengan kehendak yang dicintai…Bait syair mengungkap “ Kau dehakai Allah dan kau katakan mencintaiNYA, Yang demikian itu adalah mustahil boleh diqiaskan dengan usaha, Andaikan cintamu tulus tentu kau patuh padaNYA, Orang yang mencintai itu tentu patuh kepada yang dicinta”.

5. Bersabar menghadapi gangguan orang yang dicintai : Kesabaran di hadapan orang yang dicintai harus pula berubah menjadi ketaatan kepadanya. eg: bersabar dengan susah dan senang yang ALLAh kurniakan kepad kita, bahkan bersyukur dan terus mengaharap kasih saying-NYA. Mengekali sangka baik kepada ALLAH dan tidak berubah pengharapan kepadaNYA.

6. Memerhatikan ucapan orang yang dicintai dan mendegarkannya : Tidak ada sesuatiu yang paling disukai orang yang sedang jatuh cinta selain dari mendegarkan percakapan tentang sesuatu yang dicintai, kerana memang itulah yang dicarinya.

7. Segera menghampiri yang dicintai : Kesibukannya ditinggalkan dan menyukai apappun jalan yang boleh mendekatkannya dengan yang dicintai.

8. Mencintai apapun yang dicintai kekasih : Anas bin malik menyukai labu kerana melihat Nabi saw yang selalu memandang kea rah hidangan labu diatas mangkuk. Maka apa yang ALLAh swt sukai?

9. Serba salah ( resah) jika sedang mengunjungi orang yang dicintai atau sedang dikunjungi orang yang dicintai : Orang bercinta tidak mempunyai kegembiraan dan keseronokkan kecuali jika bersua dengan orang yang dicintai. Berpisah bererti seksaan baginya.

10. Terkejut dan gementar ketika berhadapan dengan orang yang dicintai atau tatkala disebut namanya : Hati manusia tentu mengagungkan kekasihnya dan tunduk kepadanya. Jika didatangi orang yang diagungkannya , tentu badannya akan gementar. Ada pula berpendapat kerana hatinya menjadi mekar dan berbunga-bunga , sehingga darah mengalir dari hati , lalu menjdai dingin dan mengakibatkan gementar bahkan boleh mengakibatkan kematiannya, Yang pasti , ini adalah masalah perasaan yang tentunya sangat susah dikaji dan diteliti sebab – musababnya.

11. Cemburu kepada orang yang dicintai : Kecemburuannya akan meningkat jika kekasihnya dijahati dan dirampas hak. Bagaimana seorang mengaku mencintai ALLAh swt sementara dia tidak cemburu tatakala hak-hak ALLAh dilanggar dan diabaikan? Gambaran orang cemburu yang paling buruk ialah jika diacemburu kerana dorongan hawa nafsu dan kerana bsisikan syaitan , lalu dia cemburu kepada keasihnya dengan cara berbuat sesuak hatinya dan menderhakainya. 

12. Berkorban untuk mendapatkan keredhaan orang yang dicintai : korban masa, tenaga dan harta.

13. Menyukai apapun yang menyenangkan orang yang dicintai 

14. Suka menyendiri : contohnya solat tahajut, solat hajat, beristighfar, berzikir dan bertahmid

 
15. Tunduk dan patuh kepada orang yang dicintai : meyakini al-Quran dan As-sunnah.

16. Bernafas panjang dan lebih kerap Kerana : i) Susah dan Sedih hatinya- mengingat kekasihnya ii) Gembira dan senang hatinya- menerima kasih sayang kekasihnya

17. Mengelakkan perkara yang meretakkan hubungan 

18. Adanya kesesuaian dan keserasian antara orang yang mencintai dan dicintai

19. Mencintai tempat dan rumah kekasih :  contohnya Masjid dan Surau

 
#Semoga kita diantara yang mengenal Cinta hakiki dan terus menetapkan iman bahawa “sebelum mencintai apa yg diciptakan, baik kita mengenal SIAPA YANG MENCIPTAKAN”. amin

Leave a comment »

Sabda HATI

Aku ingin berlari
Di tengah padang rumput hijau
Aku ingin terbang sebebasnya
Di langit luas tanpa batas
Aku ingin merasakan
Kebebasan sejati dunia ini
Dan hati kecil yang ceria
Tanpa lelah yang meraja duduk
Biar kuharungi lautan
Samudera luas yang terhampar
Di bumi persada hidupku
Biar kujelajahi
Rahsia hikmah alam semesta
Walau antartika tak berujung
Karena ýku ingin bersenandung
Sabda hati
Yang Agung

tasyamaiza“; 310720062345

Leave a comment »

The Power of Love

“seseorang yang memiliki rasa cinta dan kasih sayang, maka dia akan rela berkorban apapun untuk yang dicintanya, karena kekuatan cinta sangat dahsyat  yang mampu menerjang pagar-pagar kokoh yang menghadangnya”

Cinta dan kasih sayang adalah karunia indah yang diberikan allah kepada setiap makhluknya, berkat curahan cinta seseorang rela berkorban melakukan manfaat apapun untuk yang dicintainya meskipun itu sangat berat dan banyak onak dan duri. Seseorang yang benar-benar cinta pada tubuhnya maka ia akan rela meninggalkan rokoknya, seseorang yang cinta pada orang tuanya maka ia akan manfaatkan dengan baik uang yang diamanahkan padanya, cinta pada ilmu maka ia akan belajar dengan sungguh-sungguh. Begitulah the power of love yang seharusnya kita pahami dan ditanamkan pada diri kita, sehingga dapat dibayangkan betapa manisnya menapaki kehidupan dengan pengorbanan cinta. menuntut ilmu dengan cinta, membelanjakan uang dari orang tua dengan cinta, dan menjaga tubuh dari bahayanya asap nikotin karena cinta.

Cinta kepada allah-lah merupakan cinta tertinggi dari sekian banyak cabang cinta yang ada didunia ini. yang dapat menyingkirkan dan mengalahkan cinta-cinta yang lain. Kecintaan yang tiada lawan bandingnya.

Seorang sufi wanita dari Basrah yaitu Rabi’ah Al- Adawiyah pernah berkata ketika beliau berziarah ke makam Rasulullah Saw. : “Maafkan aku ya Rasul, bukan aku tidak mencintaimu, akan tetapi hatiku telah tertutup untuk cinta yang lain, karena telah penuh cintaku kepada Allah Swt”.

Begitulah the power of love seorang Rabiah Al-Adawiyah kepada allah yang kekuatanya mampu mengalahkan cinta-cinta lain, kecintaaan yang paling tertinggi kepada sang maha pemilik cinta. akan tetapi bukan berarti tidak dibenarkan cinta pada yang lain. Karena cinta kepada rasul, cinta kepada istri, cinta kepada hewan, cinta kepada harta, cinta kepada teman-teman adalah merupakan suatu bentuk cinta kepada allah. Dan dia adalah tempat berpusatnya cinta. (Center of the love)

Sewaktu masih kecil Husain cucu Rasulullah Saw. bertaya kepada ayahnya, Sayidina Ali ra: “Apakah ayah mencintai Allah?” Ali ra menjawab, “Ya”. Lalu Husain bertanya lagi: “Apakah ayah mencintai kakek dari Ibu?” Ali ra kembali menjawab, “Ya”. Husain bertanya lagi: “Apakah ayah mencintai Ibuku?” Lagi-lagi Ali menjawab,”Ya”. Husain kecil kembali bertanya: “Apakah ayah mencintaiku?” Ali menjawab, “Ya”. Terakhir Si Husain yang masih polos itu bertanya, “Ayahku, bagaimana engkau menyatukan begitu banyak cinta di hatimu?” Kemudian Sayidina Ali menjelaskan: “Anakku, pertanyaanmu sungguh hebat! Cintaku pada kekek dari ibumu (Nabi Saw.), ibumu (Fatimah ra) dan kepada kamu sendiri adalah kerena cinta kepada Allah”. Karena sesungguhnya semua cinta itu adalah cabang-cabang cinta kepada Allah Swt. Setelah mendengar jawaban dari ayahnya itu Husain jadi tersenyum mengerti.

Kecintaan seseorang kepada keluarga, harta, kedudukan adalah suatu yang lumrah, siapapun akan berkorban untuk menjaga keluarganya, hartanya, dan kedudukanya dikarenakan besarnya rasa cinta. akan tetapi waspadalah akan kecintaan terhadap mereka, jangan sampai menjauhkan atau bahkan sampai melupakan cintanya kepada allah sang pemilik cinta yang hakiki. Kecintaan yang harus lebih diunggulkan dari pada cinta yang lain, dan ini adalah merupakan tolak ukur mengenai keimanan seseorang. Nabi Saw pernah bersabda;

“Belum sempurna imam seseorang itu hingga ia Mencintai Allah dan Rasulnya melebihi cintanya dari pada yang lain”.
Seseorang yang mencintai allah maka dia juga akan mencintai makhluk yang lain, karena cinta kepada allah tidak akan membuat seseorang merusak cintanya kepada yang lain justru malah sebaliknya akan sangat mencintainya karena allah. Akan tetapi cinta yang berlebihan kepada makhluk bisa jadi melupakan akan cinta kepada allah.

Jadi teringat sepenggal nasehat Aa Gym dalam ceramahnya, “hati-hati jika mencintai makhluk, jangan sampai karena hadirnya makhluk cintamu kepada Sang pencipta makhluk menjadi berkurang, karena suatu saat nanti makhluk yang kamu cintai itu bisa saja diambil dari sisi kamu”

Teman pembaca sekalian, jadi mari, dan silahkanlah bercinta dan mencintai, cinta yang segalanya hanya karena sang pemilik cinta. Cinta yang bernilai ibadah jika disandarkan karena cinta kepadanya. Dan dia adalah cinta yang lebih berharga dari pada dunia beserta isinya.

“Ya Allah karuniakanlah kepada kami kecintaan kepada-Mu, kecintaan kepada orang yang mencintai-Mu dan kecintaan apa saja yang mendekatkan diri kami pada kecintaan-Mu. Jadikanlah dzat-Mu lebih kami cintai dari pada air yang dingin bagi orang yang dahaga.” Wallahu a’lam.

Comments (10) »

Menghias hati dengan menangis

“Andai kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Indahnya hidup dengan celupan iman. Saat itulah terasa bahwa dunia bukan segala-galanya. Ada yang jauh lebih besar dari yang ada di depan mata. Semuanya teramat kecil dibanding dengan balasan dan siksa Allah swt.

Menyadari bahwa dosa diri tak akan terpikul di pundak orang lain
Siapa pun kita, jangan pernah berpikir bahwa dosa-dosa yang telah dilakukan akan terpikul di pundak orang lain. Siapa pun. Pemimpinkah, tokoh yang punya banyak pengikutkah, orang kayakah. Semua kebaikan dan keburukan akan kembali ke pelakunya.

Maha Benar Allah dengan firman-Nya dalam surah Al-An’am ayat 164. “…Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan.”

Lalu, pernahkah kita menghitung-hitung dosa yang telah kita lakukan. Seberapa banyak dan besar dosa-dosa itu. Jangan-jangan, hitungannya tak beda dengan jumlah nikmat Allah yang kita terima. Atau bahkan, jauh lebih banyak lagi.

Masihkah kita merasa aman dengan mutu diri seperti itu. Belumkah tersadar kalau tak seorang pun mampu menjamin bahwa esok kita belum berpisah dengan dunia. Belumkah tersadar kalau tak seorang pun bisa yakin bahwa esok ia masih bisa beramal. Belumkah tersadar kalau kelak masing-masing kita sibuk mempertanggungjawabkan apa yang telah kita lakukan.

Menyadari bahwa diri teramat hina di hadapan Yang Maha Agung
Di antara keindahan iman adalah anugerah pemahaman bahwa kita begitu hina di hadapan Allah swt. Saat itulah, seorang hamba menemukan jati diri yang sebenarnya. Ia datang ke dunia ini tanpa membawa apa-apa. Dan akan kembali dengan selembar kain putih. Itu pun karena jasa baik orang lain.

Apa yang kita dapatkan pun tak lebih dari anugerah Allah yang tersalur lewat lingkungan. Kita pandai karena orang tua menyekolah kita. Seperi itulah sunnatullah yang menjadi kelaziman bagi setiap orang tua. Kekayaan yang kita peroleh bisa berasal dari warisan orang tua atau karena berkah lingkungan yang lagi-lagi Allah titipkan buat kita. Kita begitu faqir di hadapan Allah swt.

Seperti itulah Allah nyatakan dalam surah Faathir ayat 15 sampai 17, “Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia musnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah.”

Menyadari bahwa surga tak akan termasuki hanya dengan amal yang sedikit
Mungkin, pernah terangan-angan dalam benak kita bahwa sudah menjadi kemestian kalau Allah swt. akan memasukkan kita kedalam surga. Pikiran itu mengalir lantaran merasa diri telah begitu banyak beramal. Siang malam, tak henti-hentinya kita menunaikan ibadah. “Pasti, pasti saya akan masuk surga,” begitulah keyakinan diri itu muncul karena melihat amal diri sudah lebih dari cukup.

Namun, ketika perbandingan nilai dilayangkan jauh ke generasi sahabat Rasul, kita akan melihat pemandangan lain. Bahwa, para generasi sekaliber sahabat pun tidak pernah aman kalau mereka pasti masuk surga. Dan seperti itulah dasar pijakan mereka ketika ada order-order baru yang diperintahkan Rasulullah.

Begitulah ketika turun perintah hijrah. Mereka menatap segala bayang-bayang suram soal sanak keluarga yang ditinggal, harta yang pasti akan disita, dengan satu harapan: Allah pasti akan memberikan balasan yang terbaik. Dan itu adalah pilihan yang tak boleh disia-siakan. Begitu pun ketika secara tidak disengaja, Allah mempertemukan mereka dengan pasukan yang tiga kali lebih banyak dalam daerah yang bernama Badar. Dan taruhan saat itu bukan hal sepele: nyawa. Lagi-lagi, semua itu mereka tempuh demi menyongsong investasi besar, meraih surga.

Begitulah Allah menggambarkan mereka dalam surah Albaqarah ayat 214. “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.”

Menyadari bahwa azab Allah teramat pedih
Apa yang bisa kita bayangkan ketika suatu ketika semua manusia berkumpul dalam tempat luas yang tak seorang pun punya hak istimewa kecuali dengan izin Allah. Jangankan hak istimewa, pakaian pun tak ada. Yang jelas dalam benak manusia saat itu cuma pada dua pilihan: surga atau neraka. Di dua tempat itulah pilihan akhir nasib seorang anak manusia.

“Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari isteri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (QS. 80: 34-37)

Mulailah bayang-bayang pedihnya siksa neraka tergambar jelas. Kematian di dunia cuma sekali. Sementara, di neraka orang tidak pernah mati. Selamanya merasakan pedihnya siksa. Terus, dan selamanya.

Seperti apa siksa neraka, Rasulullah saw. pernah menggambarkan sebuah contoh siksa yang paling ringan. “Sesungguhnya seringan-ringan siksa penghuni neraka pada hari kiamat ialah seseorang yang di bawah kedua tumitnya diletakkan dua bara api yang dapat mendidihkan otaknya. Sedangkan ia berpendapat bahwa tidak ada seorang pun yang lebih berat siksaannya daripada itu, padahal itu adalah siksaan yang paling ringan bagi penghuni neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Belum saatnyakah kita menangis di hadapan Allah. Atau jangan-jangan, hati kita sudah teramat keras untuk tersentuh dengan kekuasaan Allah yang teramat jelas di hadapan kita. Imam Ghazali pernah memberi nasihat, jika seorang hamba Allah tidak lagi mudah menangis karena takut dengan kekuasaan Allah, justru menangislah karena ketidakmampuan itu

Comments (2) »

“Tuhan mabukkanlah aku”

Tuhan mabukkanlah aku..
Dengan anggur CINTA-Mu..
Rantai kaki erat-erat..
Dengan belenggu penghambaan..
Kuraslah seluruh isi diriku..
Kecuali CINTA-Mu..
Lalu recai daku..
Hidupkan lagi diriku..
Laparku yang maha pada-Mu..
Telah membuatku..
Berlimpah karunia..”

– Anshari, Penyair Sufi Persia –

Comments (1) »

Pohon Zaitun Masih Berbunga

Dikota Basrah
Seorang ibu melagu
Di sepan ayunan bayinya
Mendendangkan lagu sayang
Tidurlah nak, malam masih panjang
Pohon zaitun dihalaman masih berbunga
Katakan pada dunia kita masih ada

Seribu satu cerita masih aku punya
Untuk mengantarkan kau dewasa
Syahrazad mungkin habis cerita
Tak menyangka dihujung umur dunia
Seorang durja memporak perandakan negeri kita
Namun doa Rabiah
Membuka pintu Tuhan
Pintalah apa yang bis akau pinta
Pintalah zaitun tetap berbunga
Pintalah darah syuhada menjadi pupuknya
Pintalah negeri kita tetap ada
Pintalah apa yang bisa kau pinta
Pintalah nak,
Pinta,
Tuhan menjaga

puisi karya Fatin Hamama, dipetik dari Antologi Puisi Perempuan Penyair Indonesia 2005,KSI, Des 2005, hal 27

Comments (2) »

CINTA

Sekalipun CINTA telah kuuraikan dan kujelaskan panjang lebar.

Namun jika CINTA kudatangi, aku jadi malu pada keteranganku sendiri.

Meskipun lidahku telah mampu menguraikan dengan terang.

Namun tanpa lidah,

CINTA ternyata lebih terang

Sementara pena begitu tergesa gesa menuliskannya

Kata kata pecah berkeping keping begitu sampai kepada CINTA

Dalam menguraikan CINTA, akal terbaring tak berdaya

Bagaikan keldai terbaring dalam Lumpur

CINTA sendirilah yang menerangkan CINTA dan perCINTAan

Comments (10) »