Julai 12, 2008
· Dikirim dalam PUISI · Tagged Cinta, ketika cinta bertasbih
Tuhan mabukkanlah aku..
Dengan anggur CINTA-Mu..
Rantai kaki erat-erat..
Dengan belenggu penghambaan..
Kuraslah seluruh isi diriku..
Kecuali CINTA-Mu..
Lalu recai daku..
Hidupkan lagi diriku..
Laparku yang maha pada-Mu..
Telah membuatku..
Berlimpah karunia..”
- Anshari, Penyair Sufi Persia -
Julai 12, 2008
· Dikirim dalam PUISI · Tagged dzikir kasih bertasbih, ketika cinta bertasbih, PUISI
Dikota Basrah
Seorang ibu melagu
Di sepan ayunan bayinya
Mendendangkan lagu sayang
Tidurlah nak, malam masih panjang
Pohon zaitun dihalaman masih berbunga
Katakan pada dunia kita masih ada
Seribu satu cerita masih aku punya
Untuk mengantarkan kau dewasa
Syahrazad mungkin habis cerita
Tak menyangka dihujung umur dunia
Seorang durja memporak perandakan negeri kita
Namun doa Rabiah
Membuka pintu Tuhan
Pintalah apa yang bis akau pinta
Pintalah zaitun tetap berbunga
Pintalah darah syuhada menjadi pupuknya
Pintalah negeri kita tetap ada
Pintalah apa yang bisa kau pinta
Pintalah nak,
Pinta,
Tuhan menjaga
puisi karya Fatin Hamama, dipetik dari Antologi Puisi Perempuan Penyair Indonesia 2005,KSI, Des 2005, hal 27
Julai 12, 2008
· Dikirim dalam PUISI · Tagged Cinta, dzikir kasih bertasbih, ketika cinta bertasbih
Sekalipun CINTA telah kuuraikan dan kujelaskan panjang lebar.
Namun jika CINTA kudatangi, aku jadi malu pada keteranganku sendiri.
Meskipun lidahku telah mampu menguraikan dengan terang.
Namun tanpa lidah,
CINTA ternyata lebih terang
Sementara pena begitu tergesa gesa menuliskannya
Kata kata pecah berkeping keping begitu sampai kepada CINTA
Dalam menguraikan CINTA, akal terbaring tak berdaya
Bagaikan keldai terbaring dalam Lumpur
CINTA sendirilah yang menerangkan CINTA dan perCINTAan